Potensi Pertanian
Terdapat 1 kelompok tani aktif yang menjadi bagian dari potensi pertanian Desa Gebugan.
Mengenal berbagai potensi pertanian, seni budaya, kegiatan masyarakat, serta potensi ekonomi lokal yang berkembang di Desa Gebugan.
Informasi mengenai kelompok tani, kelompok seni, kegiatan masyarakat, serta usaha lokal yang ada di Desa Gebugan.
Terdapat 1 kelompok tani aktif yang menjadi bagian dari potensi pertanian Desa Gebugan.
Terdapat 3 kelompok seni aktif yang ikut menjaga dan mengembangkan kesenian lokal Desa Gebugan.
Kegiatan sosial, kelompok masyarakat, dan kebersamaan warga menjadi bagian penting dalam kehidupan desa.
Kelompok tani menjadi wadah bagi masyarakat untuk bekerja sama dalam kegiatan pertanian dan mengembangkan hasil pertanian desa.
Kelompok tani ini menjadi wadah bagi para petani untuk bekerja sama dalam kegiatan pertanian, berbagi informasi, serta mengembangkan hasil pertanian di Desa Gebugan.
Kelompok seni menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan kesenian lokal Desa Gebugan.
Kuda Lumping menjadi kesenian yang paling mampu bertahan hingga sekarang melalui Paguyuban Turonggo Jati Bengkle. Sejarah kelompok ini bermula sekitar tahun 1955 dengan nama Tunas Gembira. Setelah sempat berhenti beraktivitas akibat situasi politik nasional pada pertengahan tahun 1960-an, kelompok ini kembali bangkit pada tahun 1970 dan pada tahun 1984 resmi menggunakan nama Turangga Jati. Nama tersebut dipilih karena mengandung makna filosofis mengenai kesatuan antara jiwa, raga, dan semangat seorang penari dengan kuda yang menjadi simbol utama dalam pertunjukan. Dalam pandangan masyarakat, seorang penari tidak hanya memainkan gerakan tari, tetapi juga harus mampu menyatu dengan karakter yang diperankannya sehingga pertunjukan dapat menghadirkan makna yang lebih mendalam.
Pada masa awal berdirinya, TWKM dipandegani oleh Almarhum Bapak Bambang Sri sebagai ketua pertama. Perjalanan kelompok ini juga tidak terlepas dari peran para sesepuh seperti Mbah Ngateman, Mbah Rusmin, Pak Sutekno, dan Pak Kastiman yang turut menjaga keberlangsungan kesenian Kuda Lumping di Krajan. Nama Turonggo Welit Krido Mudo sendiri menyimpan cerita mengenai identitas kesenian yang mereka bawa.
Sanggar Seni & Budaya Among Rasa Atunggal merupakan sanggar yang bergerak dalam bidang pelestarian dan pengembangan seni budaya tradisional di wilayah Wujil, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Sanggar ini menjadi tempat bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk belajar, berlatih, berkarya, serta mengenal lebih dekat berbagai kesenian dan nilai-nilai budaya lokal. Selain menyelenggarakan kegiatan pembelajaran seni, Sanggar Among Rasa Atunggal juga aktif mengadakan dan mengikuti sarasehan, gelar seni budaya, serta pertunjukan kesenian rakyat. Melalui semangat kebersamaan dan nguri-uri kabudayan, sanggar ini berupaya menjaga agar seni, budaya, dan kearifan lokal tetap dikenal, dicintai, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Desa Gebugan memiliki berbagai usaha masyarakat yang bergerak dalam bidang produk maupun jasa. Informasi lengkap pelaku usaha ditampilkan pada halaman UMKM Desa.
Lihat UMKM Desa →